25 July 2013

20 Juli 2013 malam adalah hari pertama Tabanan Creative Festival. Malam itu semua kegiatan sudah kita lalui dan berjalan dengan lancar walaupun sempat didera hujan sebentar. Namun hujan tersebut tidak menghentikan kegiatan dan penonton yang berkunjung pada malam itu. Seperti biasa, kami berkumpul di sebelah utara Taman kota untuk melakukan evaluasi kegiatan yang telah berjalan selama satu hari.

Kami mengobrol dengan penuh canda, sambil menyiapkan apa - apa yang kurang untuk kegiatan esok harinya. Kami semua sangat khawatir dengan cuaca dibulan Juli ini. Seharusnya bulan ini bukanlah musim hujan melainkan kemarau. Tapi entah mengapa hujan hadir dibulan ini. Jika tahun lalu angin kencang membuat kami khawatir, kali ini hujan yang lebat menghantui pikiran kami, karena konsep festival yang kami buat open space. Panggung dan tempat pameran lukisan kami buat terbuka. Itulah yang membuat kami khawatir. 

Malam pertama memang sempat terjadi hujan gerimis sekitar 3 menit. Semua penonton dan pengunjung pameran berhamburan ke masing - masing stand pameran. Namun segera setelah hujan reda, mereka kembali beraktivitas seperti biasa. Di Bali kami memiliki kepercayaan dan cara untuk menolak hujan. Sebelumnya kami harus melakukan persembahyangan dan beberapa ritual lain. Sempat saya bertanya kepada teman mengapa hujan turun malam itu. Teryatan ia bilang ada yang kurang pada pelinggih yang terletak di sebelah timur Taman Kota. Jero mangku yang kami ajak keesokan harinya mengatakan bahwa ada yang merusak banten dan sesajen disana. Semua banten dan sesarinya diambil. Bahkan Handphone beliau yang ia taruh disana pun raib diambil orang.

Untunglah kemudian Handphone beliau ketemu dan ia tahu siapa pelakunya. Katanya mungkin karena itulah kemarin hujan lebat, sehingga kemudian teman saya memberikan haturan lain disana mengganti banten yang telah dirusak tersebut. Sambil memperbincangkan hal - hal yang telah terjadi pada malam itu, saya duduk bersama dengan rekan - rekan yang lain di pembatas sebelah utara taman kota.