Malam Siwaratri di Pucak Bhur Bwah Swah

8-01-2016 saya dan beberapa teman di banjar berangkat menuju  Pura Pucaksari Gunung Manik Kembar atau sering dikenal dengan nama Pucak Bhur Bwah Swah. Sekitar pukul 08.00 kami memulai perjalanan menuju Griya Agung Manik Geni di Abian Base, karena sesuai rencana kami akan ngiring Ida Nak Lingsir untuk naik ke puncak. Kami adalah rombongan yang pertama sampai di Griya Manik Geni.  Beberapa saat kemudian, rombongan yang lain pun datang dan akhirnya kami berangkat kurang lebih pukul 10.00.

Bwah Loka

Swah Loka

Bhur Loka

Perjalanan untuk mencapai Pura Pucaksari Gunung Manik Kembar (masyarakat Seraya menyebutnya Pura Bhuar – Bhuwaran) kami tempuh kurang lebih 3 jam dari Tabanan. Desa yang kami tuju adalah desa Seraya di Karangasem. Lokasi desa Seraya berada kurang lebih 15 menit perjalan dengan kendaraan bermotor dari Taman Ujung (taman kerajaan Karangasem jaman dahulu).

Jika melihat menara atau pemancar telpon berderet seperti menara kembar, bersiap – siaplah untuk belok kanan di pertigaan yang akan Anda temui sebelum menara tersebut. Karena tidak memperhatikan tanda tersebut, kami sempat tersesat melewati menara, yang membawa kami menuju arah Pura Lempuyang kurang lebih sekitar 5km.

Jpeg

Area Parkir di Kaki Bukit

Akhirnya kami sampai di lokasi dan disambut ramah oleh pemangku yang telah bersiap disana dan mengajak kami beristirahat makan siang sambil menunggu rombongan yang lain yang masih belum datang. Kami kemudian memulai persembahyangan pertama di Bhur Loka sesaat setelah semua rombongan lengkap.

Persembahyangan dimulai sekitar pukul 13.30, sehingga matahari terasa sangat terik dan kami sembahyang sambil bercucur sedikit keringat. Disini saya baru mengetahui bahwa Pemangku ramah yang menyambut kami tadi adalah pemangku yang memiliki saudara kembar. Saudara kembar beliau saat itu sudah berada di Swah Loka (puncak bukit) untuk menyambut kedatangan kami dan beberapa pemedek yang lain yang sudah lebih dahulu datang. Bhur Loka terletak di kaki bukit. Dari tempat parkir, saya dan rombongan masih harus menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai natar Pura.

Bwah Loka

Perjalanan menuju Bwah Loka pun kami mulai sekitar pukul 14.00. Dalam perjalanan inilah saya pribadi mendapatkan pelajaran tentang hidup. Tidak hanya ujian fisik yang saya dapatkan, namun juga ujian mental dan belajar untuk memusatkan pikiran untuk mencapai sebuah tujuan.

Bwah Loka

Bwah Loka

Kami memulai perjalanan dengan menyusuri jalan setapak yang berada disebelah kiri Bhur Loka. Anda tidak akan menemukan anak tangga seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Disebelah kiri dan kanan Anda adalah jurang tinggi. Sesekali Anda akan menemui beberapa ekor monyet dipepohonan, namun tidak mengganggu.

Belum seberapa perjalanan yang saya lakukan, nafas saya sudah mulai terasa berat. Perlahan saya mulai ditinggalkan oleh rombongan yang lain. Saking terasa beratnya, beberapa kali saya pun tergoda untuk menghentikan perjalanan, padahal seperempat perjalanan pun belum sampai. Namun, saya tetap berusaha untuk melanjutkan perjalanan, walaupun harus berhenti beristirahat setiap enam langkah.

12418030_1126331704052639_379152427736452312_n

Jalan setapak, tanpa anak tangga

Karena melihat saya tertinggal sangat jauh, Made Mariana (Pak Bintang) yang awalnya berangkat berbarengan dengan saya kemudian berhenti menunggu saya yang sudah tak terlihat lagi. Mengetahui perjalanan yang saya lakukan akan lama, saya kemudian memintanya untuk melanjutkan saja perjalanan tanpa menunggu saya. Tetapi ia tidak mau dan tetap menunggu saya dengan sabar.

Perbekalan saya sangat minim. Saya hanya membawa dua botol air mineral 350 ml. Satu botol sudah saya habiskan sebelum memulai perjalanan, sehingga saya hanya memiliki satu botol air minum tersisa. Saya pun membuka botol terakhir yang saya miliki dan meminumnya beberapa teguk saja. Namun malangnya, dalam peristirahatan saya berikutnya, saya baru menyadari persediaan air tersebut rupanya tertinggal jauh dibawah, padahal saya baru meminumnya sekali itu saja. Made kemudian dengan iklas memberikan saya persediaan air yang ia bawa. Saya tidak bisa membayangkan seandainya Made mau mengikuti keinginan saya waktu itu untuk meninggalkan saya.

Setengah perjalanan menuju Bwah Loka, secara fisik saya merasa tubuh mulai bisa beradaptasi. Hawa yang sejuk karena hari sudah mulai sore membuat saya semakin yakin bisa mencapai Bwah Loka. Namun, ternyata godaan masih belum selesai. Ketulusan niat saya untuk mencapai tujuan masih diuji. Untuk mengurangi rasa lelah, saya bertegur sapa dengan beberapa orang yang telah kembali. Dalam obrolan tersebut, setiap orang yang saya temui selalu mengatakan bahwa perjalanan masih sangat jauh dan berat. Bahkan ada yang bercerita saking beratnya medan, sesampainya di Bwah Loka ia harus kembali turun karena merasa tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan.

Made Mariana, yang setia menemani saya dalam perjalanan, menggendong tas yang saya bawa

Made Mariana, yang menemani saya diperjalanan, sedang menggendong tas saya

Cerita – cerita tersebut semakin menggoyahkan pikiran saya untuk sampai pada Bwah Loka. Untunglah Made bersama saya saat itu, sehingga pikiran saya dapat saya tarik kembali. Mangku Siwa / Mangku Gde yang selama ini menjadi teman sekaligus guru saya pun menelpon untuk memastikan kondisi saya baik – baik saja. Mereka berdua memberikan saya energi tambahan agar saya tidak goyah dan terus menguatkan niat.

Sekitar Pukul 16.30 saya hampir sampai di Bwah Loka. Mengetahui hal itu, saya malah memperlambat gerakan. Saat itu saya menyadari, saya harus mengatur nafas dan ego saya untuk sampai. Saya terus meniatkan pikiran agar sampai di puncak walaupun nantinya sampai pada malam hari.

Begitu sampai di plataran pura Bwah Loka, saya merasa begitu tenang. Seluruh lelah yang saya rasakan satu setengah jam tiba – tiba hilang. Jro Mangku yang ikut pada rombongan kami baru saja memulai puja, sehingga saya pun tidak ketinggalan untuk mengikuti persembahyangan yang berjalan sesuai dengan waktu.

Begitu duduk untuk mengikuti persembahyangan, seluruh gambar yang baru saja terekam dalam perjalanan menuju Bwah Loka tiba – tiba berputar kembali. Ujian fisik dan mental yang saya alami terefleksi begitu saja, bahwa dalam mencapai sebuah pencapaian hidup, saya akan melalui berbagai cobaan hidup.

Saya diingatkan, kalau saya tidak boleh mudah menyerah. Saya juga tidak boleh ego untuk berjalan sendirian. Harus ada support dari teman, sahabat dan guru yang mendampingi disetiap langkah dan waktu ketika ingin membuat keputusan.

Rekaman – rekaman gambar tersebut membuat seluruh tubuh saya bergetar dan tidak mampu menahan air mata.

Swah Loka

Pemandangan yang begitu indah menuju Swah Loka

Pemandangan yang begitu indah menuju Swah Loka

Seusai sembahyang di Bwah Loka, kami melanjutkan perjalanan menuju Swah Loka. Saya ditanya apakah saya bisa melanjutkan perjalanan, saya lalu menjawab, “Niat saya untuk bisa sampai kepuncak, saya akan jalani pelan – pelan, yang penting saya bisa sampai disana.”

Saat semua telah melanjutkan perjalanannya, Made melihat satu botol air mineral 350 ml yang isinya masih banyak persis seperti air yang saya tinggalkan tadi dibawah. Karena persediaan air tidak banyak, saya tidak berfikir lagi itu milik siapa dan langsung membawanya sebagai bekal untuk naik.

Medan menuju Swah Loka jauh lebih berat ketimbang sebelumnya. Jalannya lebih terjal, dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam. Namun kali ini cobaan terasa tidak seperti sebelumnya. Badan dan kaki terasa begitu ringan. Saya sudah bisa mengatur nafas dengan baik sehingga perjalanan satu jam tidak begitu terasa.

Made masih setia menemani saya dalam perjalanan. Selain itu saya mendapat energi tambahan dari Mangku Siwa, karena beliau juga ikut menemani saya dan bercerita tentang berbagai hal, sehingga membuat perjalan terasa jauh berbeda dari perjalanan sebelumnya.

Ketika kami sampai di Swah Loka, pandangan sudah mulai samar – samar. Kami sampai sekitar jam 6 sore. Saat itu jro mangku masih menjalankan puja untuk satu rombongan lain sebelum kami. Karena tidak mengetahui bahwa Jro Mangku di Swah Loka adalah saudara kembar dari Jro Mangku di Bhur Loka, beberapa orang berbisik heran, “Kapan Jro Mangku mendahului kita tadi ya kok tiba – tiba sudah berada disini?”

Made, Saya dan Jro Mangku Gde sesampainya di Swah Loka

Made, Saya dan Jro Mangku Gde sesampainya di Swah Loka

Sesaat kemudian kami memulai persembahyangan. Karena hari sudah malam, Jro Mangku dan beberapa pedagang yang tadinya berjualan disana pun bersiap untuk menuruni bukit. Berbeda dengan sebelumnya, persembahyangan kali ini dipimpin oleh Ida Nak Lingsir Griya Manik Geni. Sekitar 29 orang dari kami dengan hanya diterangi cahaya lampu senter, kami melantunkan Gayatri Mantram setelah sebelumnya Ide Nak Lingsir mengawali dengan mantra – mantra khusus.

Dalam keheningan, energi yang berada disekitar tempat tersebut terasa begitu besar. Kabut tiba – tiba menyelimuti kami semua sehingga bintang pun tidak bisa kami lihat. Pemandangan cahaya lampu di wilayah Singaraja dan Karangasem yang begitu indah pun tertutup oleh kabut.

Diakhir persembahyangan tepat pukul 09.00, Ida Nak Lingsir bercerita kepada kami tentang sejarah Pura tersebut. Beliau bercerita bahwa beliau mengetahui Pura tersebut jauh sebelum dibangun seperti saat ini, dan yang ada saat itu hanya bebaturan dan turus lumbung. Saya juga merasa beruntung karena beliau adalah salah satu orang yang ikut mendem pedagingan sewaktu pura tersebut dibangun dengan meletakan pica yang sebelumnya telah dititipkan melalui pemberian gaib kepada beliau.

“Pura niki sirahne Bali, kerane punike desa niki madan desa Seraya (Sirah Ye).” Tutur Ida Nak Lingsir mengawali cerita malam itu. Selanjutnya beliau bercerita bahwa Pucaksari Gunung Manik Kembar adalah Hulu pulau Bali. Disinilah Shanghyang Pasupati pertama kali turun di bumi Bali. Sebelumnya tidak banyak yang mengetahui tempat ini. Sebagian besar umat biasanya melakukan pemujaan hanya melalui Pura Lempuyang yang ada tepat disebelah barat kami, karena disana sudah ada penyawangan Ida.

Sewaktu kerajaan Karangasem masih berjaya, di desa Seraya ada sebuah kolam yang merupakan paica Ida Betara Pucaksari Gunung Manik. Siapa pun yang mandi didalam kolam tersebut akan menjadi sakti mandraguna tidak terkalahkan oleh siapa pun. Warga Seraya pun kemudian banyak yang menjadi sakti sebab anugerah tersebut dan membantu kerajaan Karangasem untuk menggempur sampai ke Lombok.

Namun lama – kelamaan sang raja menjadi takut karena kesaktian warga di Seraya jauh melebihi kesaktian raja dan pasukan – pasukannya di istana. Karena situasi tersebut, akhirnya dibuatlah sebuah konspirasi bahwa pendekar – pendekar Seraya akan berbelot untuk menghancurkan kerajaan Karangasem. Karena itu, kerajaan memerintahkan untuk memanggil orang – orang sakti di Lombok untuk bertempur melawan pendekar di Seraya. Karena itulah, tidak heran jika Anda sekarang akan menemui beberapa mesjid dan umat Islam yang bermukim dan berbaur disana saat ini.

Karena malam tersebut saya tidak mendengar dengan begitu jelas cerita Ida Nak Lingsir, keesokan paginya saya bertanya kepada Mangu Siwa untuk mengulang kembali cerita malam tersebut. Saya dan Made mendengarkan ulang kembali cerita tersebut sambil duduk bersandar dibelakang pelinggih, sedangkan Jro Mangku bercerita sambil berdiri didepan kami. Diakhir cerita, tiba – tiba saya dan Made merasakan pelinggih bergetar beberapa saat seperti ada gempa. Kami bertanya kepada Jro Mangku dan orang lain yang ada saat itu, namun beliau tidak merasakan adanya gempa. Saya juga sempat mencari informasi di twitter milik BMKG apakah ada informasi gempa saat itu, ternyata tidak ada. Sampai saat ini, saya masih belum tahu, apakah itu sebuah kebetulan atau sebuah pertanda.

Pagi hari bersama Jro Mangku duduk di belakang pelinggih

Pagi hari bersama Jro Mangku duduk di belakang pelinggih

Malam itu, banyak pemedek lain yang datang namun tidak mekemit (menginap) disana. Ada yang datang jam 10.00 malam ada pula yang datang jam 2 pagi. Mungkin karena sudah jodoh, ada salah satu pemedek yang datang berdua saja bersama istrinya saat itu, akhirnya bertemu dengan Ida Nak Lingsir dan atas petunjuk yang diterimanya setelah beberapa lama meditasi meminta agar Ida Nak Lingsir mau menjadi Nabe (guru)-nya. Dan Ida Nak Lingsir pun langsung napak mereka untuk memberikan restu.

Doa tengah malam yang rencananya melantunkan Gayatri Mantram sebanyak 108 kali pun harus terhenti pada lantunan ke 99, karena kejadian tidak terduga tersebut.

Setelah bermalam dalam dinginnya kabut malam tilem kapitu di Pura Bhur Bwah Swah, pada 9 Januari 2016 pagi kami turun. Dalam perjalanan pulang, saya melihat sebuah lapangan sepak bola yang bernama “Ki Kopang”. Mudah – mudahan suatu saat nanti saya mendapatkan kesempatan untuk mengetahui lebih banyak cerita mengenai beliau. Perkiraan saya, Ki Kopang adalah seorang pendekar yang sangat terkenal saat itu.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *