Melali Ke Teba

Waktu masih kanak – kanak dulu, tempat bermain saya adalah di Teba, dan akhir pekan kemarin saya menyempatan mengajak anak – anak bermain di teba. Teba atau Tebenan adalah salah satu tempat yang termasuk dalam tatanan pekarangan masyarakat Bali, dimana biasanya tempat ini berada dibagian belakang rumah. Meskipun berada dibelakang, ditempat inilah biasanya banyak ditanam pepohonan oleh penduduk.

img_0227-1024

Ditempat kami, sampai saat ini masih ada beberapa pohon bambu yang ditanam. Walaupun sudah agak berkurang jika dibandingkan dengan waktu saya masih kecil dulu. Selain bambu, pohon-pohon besar yang lain seperti gatep, sentul dan waru juga ada.

Teba kebetulan berada disebelah timur pekarangan rumah saya. Ada sungai kecil disana tempat saya sewaktu kecil mandi. Jika hari sudah sore, saya sering sekali berenang dan masuk terowongan. Berhasil menyelam melewati terowongan adalah kebanggaan tersendiri dan gengsi. Airnya jernih sekali, dan orang tua, muda, kecil maupun besar mandi bersama disana. Namun laki – laki dan perempuan memiliki tempat mandi yang berbeda, meski jaraknya tidak terlalu jauh.


Pas disebelah timur sungai ini, adalah areal persawahan. Dulu semasih ada air mengalir,  saya sering mencari remis (semacam kerang)  di areal sawah ini.  Namun sekarang, sawah mengiring. Airnya susah sekali didapat. Sehingga sebagian besar masyarakat sekarang memanfaatkannya untuk berkebun. Sebagian juga sudah ada yang dikapling.

Di teba masyarakat memelihara hewan peliharaan,  seperti babi,  sapi dan ayam. Terkadang, sampah rumah tangga juga dibuang di teba. Seingat saya tentang memory masa kecil, meskipun teba adalah tempat pembuangan akhir, terutama untuk sampah rumah tangga, kami merasa sangat nyaman berada disana. Bahkan, karena banyaknya pohon bambu yang ditanam, banyak masyarakat yang melepas lelah dan bersantai jika hari sudah mulai sore.

img_0263-1024

Saat ini, bambu sudah mulai berkurang. Beberapa keluarga sudah membuat bangunan baru di teba sebab jumlah kepala keluarga semakin bertambah. Jika dahulu makanan kemasan dengan menggunakan plastik sangat minim, sekarang sampah plastik yang dibuang di teba sangat mudah ditemui.

img_0232-1024

Masyarakat mulai kebingungan kemana harus membuang sampah rumah tangganya. Apalagi sekarang sudah ada jalan setapak dengan lebar 5m yang telah dibuat dipinggir sungai dekat teba kami. Menyebabkan kami harua tetap merawat teba agar tidak terlihat kotor.

Tidak banyak yang mengerti mengapa harus ada teba. Sampah memang dibuang di teba, ternak juga dipelihara disana. Karena itulah banyak pohon yang kemudian ditanam. Sebelum banyak sampah plastik, sampah dan kotoran hewan itu menjadi pupuk alami bagi tumbuhan. Daun, buah, ranting dan semua hasil produksi kebun di teba kemudian digunakan kembali untuk kehidupan sehari – hari. Begitulah tatanan yang telah dibuat oleh leluhur orang Bali yang tidak banyak kita mengerti.

Semoga teba akan tetap selalu ada sebagai tempat berteduh kami dan anak – anak kami nanti,  tempat mereka bermain dan kayu – kayu tumbuh besar.

2 Comments

    • wahya

      Saya sedang berusaha mengajak teman – teman untuk kembali menanam bambu. Agak alot menyadarkan, cuma mudah-mudahan suatu saat terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *