Site icon Wahya Biantara

Perjalanan Menuju Sepi

Saat perjalanan ini aku mulai, aku kira sepi akan aku temukan saat aku berada ditengah hutan pegunungan yang dingin. Dimana tidak ada seorang pun yang berlalu lalang. Lalu aku berjalan menuju puncak yang paling tinggi dari pesisir pantai.

Semua alat elektronik aku matikan. Tidak ada satu pun yang dapat menghubungiku. Sesampainya disana, aku memang merasa jauh lebih tenang. Desiran angin dingin seolah menghentikan laju darahku yang telah lama terbakar api ego dan hiruk pikuk kehidupan.

Suara khas binatang ditengah hutan dan bau tanah yang basah oleh embun membuatku tertegun. Menyaksikan pohon – pohon besar bergoyang diterpa angin ke kiri dan ke kanan, juga mampu mengalihkan fokusku.

Dibawah pohon yang rindang aku kemudian duduk bersila. Mencari sepi yang aku rindukan. Aku mulai memejamkan mataku sambil menikmati alunan merdu ranting – ranting bergesakan kemudian disambit kicauan burung dan siulan angin ditelinga.

Sebisa mungkin aku mencoba untuk berada disitu, dan sepenuhnya berada disitu. Aku pikir dengam begitu aku bisa berharap besar sepi itu akan datang.

Ternyata, meskipun tubuhku sudah tidak dapat dijangkau oleh siapa pun saat itu, pikiranku masih saja mengajakku untuk mengobrol panjang lebar. Terkadang ia mengajakku mengingat masalah – masalah pekerjaan, atau perbuatan memalukan yang aku pernah lakukan. Sesekali ia juga menertawakan perbuatan konyolku. Ia juga marah karena aku pernah menghianatinya dan tidak melakukan apa yang ia perintahkan.

Begitu ia bergejolak dan terus mengajaku mengobrol tanpa henti. Sehingga meskipun di tempat yang sepi, aku tetap saja merasa ramai. Ia begitu cepat memindahkan semua obrolan. Belum selesai ia menertawakanki, ia sudah memarahiku dan dengan cepat pula ia menyayangiku. Aku pikir waktu itu ia menggangguku, sehingga dengam sekuat tenaga aku mencoba memintanya untuk pergi.

Tetapi, semakin aku memintanya untuk pergi ia semakin mengeraskan volume suaranya dalam kepalaku. Daftar ceritanya, nasehatnya, ejekannya semakin panjang. Aku hampir menyerah mendengarkannya dan menganggapnya sebagai penggangu sehingga aku tak menemukan sepi.

Aku tetap mendengarkannya dan mencoba membuka obrolan dengan pikiranku. Perlahan – lahan suasana kemudian terasa lebih nyaman. Sesaat pikiranku terdiam. Saat itulah aku gunakan untuk benar – benar merasakan suasana disitu. Namun sesat lagi, ia kembali berbicara dengan segala hal yang ia rasa perlu dibicarakan. Kembali aku mendengarkannya tanpa menolak ataupun mengiyakan.

Aku hanya mendengarkannya, sampai ia kemudian terdiam. Dan aku bisa kembali benar – benar merasakan suasana saat itu. Begitu seterusnya.

Perjalananku selanjutnya adalah mencari sepi dikeramaian.

Exit mobile version