Site icon Wahya Biantara

Tentang Pilihan Politik

Di Tabanan saat ini sedang hangat pembicaraan mengenai calon Bupati dan calon Wakil Bupati. Di koran, media online warung kopi bahkan bale banjar orang – orang mulai membicarakan siapakah figur yang cocok untuk memimpin Tabanan 5 tahun yang akan datang, terhitung mulai tahun 2020.

Saya sendiri terus mengikuti dan mengamati beritanya di media online sambil menimbang – nimbang dan mengamati kira – kira siapakah figur yang muncul dan bagaimana rekam jejaknya. Saya tidak banyak berkomentar karena saya tahu pergerakan politik hitungannya menit, bukan lagi jam.

Sampai suatu hari, seorang teman wartawan datang berkunjung ke rumah untuk menanyakan kepada saya kira – kira figur calon Bupati dan Wakil Bupati yang pas menurut saya bagaimana. Kami mengobrol santai sambil minum kopi di Jineng rumah saya.

Ketika saya ditanya kriteria figur yang saya inginkan, tentu saja saya punya. Yang pertama menurut saya adalah sosok yang mengerti potensi yang dimiliki masyarakat Tabanan yang harus dikerjakan secara serius. Potensi Tabanan tidak lain adalah pertanian.

Yang kedua adalah figur yang tidak memiliki mind blocking bahwa tidak mungkin jadi petani bisa kaya. Diperlukan seorang pemimpin yang kreatif dalam mencari solusi untuk mensejahterakan petani. Figur tersebut juga harus bisa melihat potensi pertanian dari sisi yang berbeda.

Dalam budaya agraris tersebut ada potensi seni, teknologi luhur tingkat tinggi bahkan sampai kepada kearifan – kearifan lokal lainnya yang membuat manusia Bali sendiri memiliki ciri khas tersendiri yang kemudian membentuk budaya yang diteliti banyak peneliti luar.

Kriteria lainnya yang tidak saya sebutkan saat wawancara tersebut adalah figur tersebut harus benar – benar jujur, tulus dan telah selesai dengan dirinya sendiri. Tentu kriteria ini agak susah dinilai jika mengenal figur dari sisi luar saja.

Dari kriteria – kriteria tersebut, adakah sosok yang menurut saya memenuhi? Saat ditanya seperti itu, saya terus terang blank. Mungkin karena kriteria yang saya katakan tersebut terlalu ideal dan tidak mungkin dimiliki oleh satu orang saja. Saat ditanya demikian, saya kemudian bertanya balik, siapa saja calon yang muncul saat ini?

Lalu saya diberitahu beberapa nama yang “masih mungkin” akan mencalonkan diri. Tetapi ada juga nama yang diberitahukan kepada saya siapa saja yang sudah pasti akan mencalonkan diri. Salah satunya adalah Dr. Komang Sanjaya yang saat ini sedang menjabat sebagai Wakil Bupati dan saya juga tahu di beberapa media, beliau memang sedang bersiap untuk itu saat ini.

Lalu mulailah kami mengalir membicarakannya lebih lanjut. Saya pernah berkunjung ke rumah beliau sekitar 5 tahun lalu mungkin sekitar dua kali. Saat itu kami berdiskusi tentang potensi pertanian di Tabanan. Setelah itu, lama kami tidak pernah berdiskusi lagi, paling hanya ketemu dibeberapa acara yang kebetulan saat itu saya ada disana.

Sehingga secara personal saya tidak terlalu mengenal beliau, tetapi saya mengikuti gaya kepemimpinannya dari luar saja. Lalu ketika saya ditanya, apakah cocok beliau maju sebagai Bupati? Dengan pengalamannya selama ini memimpin Tabanan, utamanya lima tahun terakhir tentu saja beliau masih pantas.

Kebetulan saya pernah bergabung dibeberapa group WhatsApp dimana beliau ada didalamnya. Beliau cukup responsive dengan masukan yang diajukan member yang lain. Sementara, saya hanya menjadi silent reader :D.

Hanya saja saya katakan lagi kepada teman saya tersebut, akan paling pas jika beliau berpasangan dengan seorang dari kalangan profesional. Berkata demikian, saya langsung ditembak pertanyaan, siapa?

Ada dua orang yang saya katakan saat itu. Hery Angligan dan Dharma Putra. Mereka adalah dua profesional yang saya tahu memiliki kecintaan yang sangat terhadap Tabanan, dan memang saya kenal semenjak di Talov (Tabanan Lovers, komunitas pencinta Tabanan).

Namun, saya kebetulan lebih sering berinteraksi dengan Hery Angligan. Jik Hery saya memanggil beliau. Saya kenal beliau semenjak talov mulai aktif membuat kegiatan – kegiatan di Tabanan sampai saat ini.

Yang saya tahu, beliau ini adalah sosok yang tidak canggung jika ingin berbuat dan membantu seseorang. Bahkan sering kali beliau tidak ingin disebut namanya jika ia menyumbang sesuatu yang bagi saya nilainya tidak kecil. Saya sering bercerita kepada teman – teman, beliau ini kakinya menginjak tanah sedang tangannya menyentuh langit.

Mengapa saya katakan kakinya menyentuh tanah? Suatu ketika, saya sembahyang ke Pura Batur, dan kebetulan saya bertemu beliau saat itu. Saya bertemu beliau ditempat yang tak lazim, dimana para sopir berkumpul dan mengobrol. Sedangkan beliau semestinya ada di Jeroan bersama bapak mentri dan para pejabat lainnya. Kalau tidak salah saat itu beliau masih menjabat sebagai President Direktur Inna Hotel Group, yang membawahi ribuan karyawan di seluruh Indonesia.

Lalu saya bertanya, “Kenapa kok tidak ikut didalam Jik?” Beliau hanya menjawab nanti saja kalau sudah acara sembahyang dimulai. Belakangan saya baru tahu, beliau memang memiliki gaya hidup yang sederhana dan ditempa pengalaman hidup yang sangat keras sehingga bisa mencapai puncak karirnya.

Baiknya lagi ia tidak pernah lupa dengan asalnya. Dalam beberapa kegiatan yang kami adakan di beberapa desa, pun beliau selalu saya perhatikan berbaur dengan masyarakat lain. Bukannya dengan pejabat – pejabat yang hadir. Sesekali beliau menyapa pejabat yang beliau kenal, namun lalu berlalu.

Lalu apa maksud saya mengatakan tangan beliau menyentuh langit? Itu karena jaringan yang beliau miliki. Pengalamannya meniti karir sampai di Ibu Kota, bahkan kabarnya sempat masuk dalam daftar kabinet kerja Jokowi tidak perlu kita ragukan lagi. Seorang profesional yang memiliki jaringan luas dan kemampuan managerial tentu saja adalah sosok yang sangat ideal, terlebih saya mengenalnya secara personal lebih dekat. Jika dilisting prestasi beliau, termasuk prestasinya menjadi seorang GM Hotel termuda saat itu, maka tidak akan ada habisnya.

Silahkan dibaca beberapa link berita berikut tentang prestasi beliau:

Begitulah sedikit cerita yang dapat saya tulis disini untuk melengkapi berita yang muncul dimedia online terhadap hasil wawancara saya tersebut. Apakah beliau mau dicalonkan sebagai Wakil Bupati? Saya tidak tahu, karena saya tidak pernah bertanya tentang hal itu. Namun saya berharap beliau mau ngayah pulang ke kampung halaman. Bila perlu ikut kedalam bursa calon Bupati. Tentu support dari teman – temannya sangat diperlukan.

Jika kemudian disana ditulis judulnya seolah itu adalah dukungan talov, saya rasa itu adalah sebuah trik untuk memancing klik (click baiting) dari redaksi.

Komunitas talov adalah komunitas yang memiliki cara pandang dan berfikir yang kritis dan cair. Talov sendiri tidak memiliki struktur organisasi. Kebetulan saya dan beberapa teman lain yang diawal menghidupkan kegiatan – kegiatan di talov, sehingga apa yang saya katakan dianggap sebagai suara talov. Tidak demikian.

Talov sangat terbuka untuk membuka diskusi, apalagi diskusi konstruktif untuk membangun Tabanan, yang memang menjadi tujuan awal dibuatnya kegiatan – kegiatan talov.

Kita seharuanya tidak apatis kepada politik, asalkan konstruktif. Karena hidup ini mulai dari bangun pagi hingga tidur ditentukan oleh elite – elite politik disana. Baru bangun kita harus cuci muka pakai PDAM. Sedangkan harga PDAM dan kebijakannya diatur dalam sebuah kebijakan politik kan?

Agung Bara Para Mekel, 12 Juni 2019.

Exit mobile version