Site icon Wahya Biantara

Kembali ke Desa

Sunset di Desa Bengkel

Ketika saya bertemu dengan rekan – rekan bisnis yang baru, pertanyaan wajar yang selalu mereka tanyakan kepada saya adalah, dimana saya tinggal. Saya jelaskan, saya tinggal di Tabanan, sebuah desa kecil yang terletak di pesisir pantai dekat dengan Pura Tanah Lot.

Dengan begitu, mereka lebih mudah membayangkan dimana saya tinggal, karena Tanah Lot sendiri sudah menjadi tempat tujuan wisata yang sudah banyak dikenal masyarakat. Pertanyaan lanjutan yang biasanya ditanyakan kolega saya adalah, mengapa tidak tinggal di Denpasar saja atau daerah Kuta agar dekat dengan tempat kerja, sehingga tidak membuang waktu di jalan?

Jawaban saya biasanya tidak begitu saja bisa membuat mereka merasa puas. Saya jawab, agar saat pulang kerja, saya bisa jauh dari hingar bingar dan bisingnya kota, sehingga saya bisa beristirahat dengan nyaman. Jika dijawab seperti ini, biasanya mereka tidak melanjutkan lagi ke pertanyaan lain :).

Semenjak saya pulang dari merantau mengecap ilmu di Surabaya, saya memang tinggal di desa bersama kedua orang tua. Sempat tinggal di Denpasar kurang lebih empat bulan, namun akhirnya saya kembali memutuskan untuk pulang. Otomatis, saya harus berangkat kerja lebih awal dan biasanya pulang agak malam, sehingga tetap bisa bersosialisasi dengan teman – teman sehabis pulang kantor.

Tahun 2007, saya dan beberapa teman memutuskan untuk mendirikan usaha. Harapannya dengan begitu saya memiliki waktu yang lebih fleksibel. Nyatanya, diawal kami merintis usaha yang kami beri nama Lumonata, kami lebih banyak menghabiskan waktu kami di kantor.

Ketika itu berangkat sekitar jam 8 pagi, pulangnya jam 3 pagi. Hehehe. Begitulah perjuangan yang kami lakukan kurang lebih sekitar dua tahun, sampai akhirnya hari ini perusahaan yang kami rintis dari nol sudah berusia 12 tahun dengan 15 orang team.

Mulai dari tahun 2009 setelah berkeluarga, Tuhan memberikan saya begitu banyak kesempatan untuk belajar banyak hal. Mulai dari mempelajari diri sendiri, karakter orang lain serta kehidupan bermasyarakat. Saat itu saya masih berumur kurang lebih 26 tahun, sehingga emosi saya pun belum stabil.

Diluar kegiatan bisnis, saya juga senang bersosialisasi dengan teman – teman komunitas sosial sehingga saya bertemu dengan banyak karakter orang. Salah satu komunitas yang sampai saat ini saya masih ikut aktif didalamnya adalah komunitas Tabanan Lovers atau sering dikenal dengan talov (Komunitas Pencinta Tabanan) .

Ada berbagai kegiatan yang kami lakukan di komunitas ini, dan sebagian besar sifatnya spontan. Mulai dari bedah rumah, event Tabanan Creative Festival, konservasi burung hantu, pertanian organik Umawali dan banyak lagi kegiatan lainnya.

Sebagian besar kegiatan tersebut dilakukan di desa-desa di Tabanan. Sehingga dengan demikian saya mengetahui sedikit tidaknya karakter orang disetiap desa tersebut. Saya pun sedikit menjadi tahu peta perpolitikan Tabanan, karena mau tidak mau kegiatan sosial yang kami lakukan, sengaja atau tidak akan selalu bersinggungan dengan pemerintahan.

Tujuan kami hanya membuat efek ketok tular. Jika kemudian kegiatan yang kami lakukan dianggap bagus, lalu diadopsi oleh pemerintah atau komunitas lain, itulah yang kami jadikan tolak ukur kesuksesan kami.

Dari sekian banyak kegiatan yang kami lakukan tersebut, mungkin hanya satu dua kali saya lakukan di Banjar sendiri. Itu pun sering saya lakukan diam – diam. Kehidupan kami di desa sangatlah komunal, sehingga berita dengan sangat cepat sekali menjadi viral.

Pengalaman saya saat bergerak di desa lain untuk berbuat sesuatu, selalu saja ada yang tidak suka. Niat baik memang tidak selamanya bisa diterima dengan baik.

Menyadari hal itulah, pilihan untuk berbuat senyap di desa sendiri menurut saya adalah pilihan terbaik saat itu, sehingga kemurnian niat dan pikiran saya tidak akan tercampur energi negatif.

Semakin lama saya mulai mengetahui permasalahan – permasalahan yang ada di desa kelahiran saya. Perkembangan begitu pesat terjadi. Namun perkembangan tersebut tidak diiringi oleh kesiapan apa pun. Banyak hotel dan perumahan mewah sudah dan akan berdiri di pesisir pantai. Sepuluh tahun kedepan, desa ini akan menjadi daerah penyangga wisata di Tabanan.

Dengan demikian, dibutuhkan kesiapan mental yang sangat baik agar masyarakat memiliki karakter yang kuat dalam menyambut perubahan ini, sehingga nantinya masyarakat lokal tidak mudah tersisihkan oleh persaingan. Tidak ada yang bisa melawan perubahan, namun arah perubahan tersebut kitalah yang menentukannya.

Lihatlah betapa indahnya sunset dalam foto diatas. Kerap kali saya memandang, begitu banyak imajinasi yang muncul dalam alam pikir saya tentang apa yang bisa saya lakukan untuk menjaganya tetap seperti itu, bahkan menjadi lebih indah.

Selama ini secara fisik, saya sepenuhnya sudah berada di desa. Namun tidak demikian dengan pemikiran – pemikiran yang saya miliki. Saya sendiri berharap, pemikiran dan tindakan saya untuk masyarakat suatu saat bisa selaras. Sehingga banyak kebaikan yang bisa kami sebarkan dan sampaikan keseluruh plosok negeri.

Exit mobile version