Site icon Wahya Biantara

Langkah Kecil untuk Dampak yang Lebih Besar

Dalam setiap doa yang saya utarakan setiap kali saya bersembahyang adalah agar saya bisa menjadi manusia yang berguna. Baik untuk tubuh saya, keluarga besar maupun berguna untuk seluruh mahkluk hidup di dunia ini.

Saya hanya memasrahkan diri supaya diberikan jalan terbaik agar doa tersebut dipenuhi. Saya tidak pernah mendesain hidup saya sedemikian rupa. Saya berusaha menjalani dan menerima setiap kejutan hidup yang saya hadapi.

Mungkin saya terlihat sedikit naif dan tidak memiliki hasrat untuk hidup lebih baik. Bukan demikian. Tidak merencanakan hidup bukan berarti tidak memiliki prinsip hidup. Prinsip hidup saya adalah agar saya menjadi manusia berguna.

Secara pribadi, kehidupan saya saat ini sudah terasa cukup. Apakah masih ada yang kurang? Tentu, sebagai manusia biasa saya masih belum bisa dikatakan selesai dengan diri saya sendiri. Masih ada banyak hal dalam diri saya yang masih harus diperbaiki.

Lalu beberapa bulan lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kekurangan – kekurangan tersebut. Kesempatan itu adalah kesempatan mengabdi di desa sebagai calon Kepala Desa Bengkel.

Pada awalnya saya menolak kesempatan ini karena saya merasa belum pantas dan banyaknya kekurangan dalam diri saya. Butuh waktu yang panjang untuk saya memikirkan hal tersebut.

Suatu ketika, saya mulai berfikir ulang tentang keputusan saya tersebut. “Saya tidak seharusnya menggunakan kekurangan saya sebagai alasan untuk tidak berbuat lebih baik. Kesempatan ini seharusnya saya gunakan untuk memperbaiki kekurangan dalam diri saya.” begitulah kira – kira hati kecil saya berbicara saat itu.

Belahan pikiran saya yang lain juga ikut memperkeruh keteguhan hati saya. Begini dia berkata, “Bisnismu saat ini kan sudah bagus dan sedang berkembang. Mengapa kamu tidak fokuskan dirimu disana saja? Ini namanya kan jalan mundur, bukan maju!”

Mendengar pertanyaan itu mengiang ditelinga saya, mata saya langsung terpejam dan degup jantung saya terasa berhenti sebentar. Sebelum akhirnya muncul jawaban yang menguatkan keteguhan hati saya.

“Jika kamu ingin menjadi orang yang berguna, kesempatan ini seharusnya kamu gunakan untuk memperbaiki kekurangan dalam dirimu. Lakukan hal – hal kecil yang memberikan dampak yang besar. Kamu tidak akan pernah kehilangan apa pun jika setiap perbuatanmu dilandasi oleh rasa tulus ikhlas.”

Demikianlah kira – kira proses saya berfikir sehingga akhirnya saya memutuskan untuk menerima kesempatan mengabdi ini.

Setengah perjalanan sudah saya lalui menuju proses ini, dan sudah banyak hal yang saya pelajari. Sejatinya, ini adalah sebuah perjalanan menuju kedalam diri saya sendiri. Syukurnya,saya diberikan alat bantu berupa cermin dalam perjalanan ini sehingga saya dapat berkaca tentang diri saya melalui orang lain.

Doakan saya agar dapat melalui perjalanan ini dengan baik. Untuk masyarakat Bengkel, saya mendapat nomor urut 2.

Exit mobile version