Site icon Wahya Biantara

Kilas Balik Satu Tahun Mengabdi

Tidak terasa sudah satu tahun saya mengabdi di desa. Begitu banyak tantangan yang saya hadapi, apalagi begitu bertugas saya langsung dihadapkan dengan pandemi yang membuat saya harus belajar sangat cepat tentang sistem birokrasi.Pada tahun pertama ini, kami lebih banyak fokus di internal.

Merapikan database yang masih tersusun secara manual. Mulai menerapkan komputerisasi dan membiasakan setiap orang untuk bekerja dan menyusun data secara digital. Kini, database kependudukan sudah mulai tersusun dengan rapi.

Hal ini berdampak signifikan kepada kecepatan kami dalam melayani masyarakat utamanya dalam hal surat menyurat dan memanajemen bantuan sosial yang ada.

Sedangkan dalam mengendalikan virus Covid19 kami banyak dibantu oleh Satgas Gotong Royong dan PMI dalam hal edukasi maupun pendisiplinan masyarakat.

Selain itu, kami juga telah melepaskan burung hantu tyto alba dan melakakukan gerakan pengendaliam hama tikus yang ada disawah. Harapan kami kedepan dalam jangka panjang, hama tikus dapat terkendali secara alami menggunakan sistem rantai makanan yang ada.

Tahun ini kami juga mulai belajar banyak tentang pengelolaan sampah dari sumber. Salah satu kebijakan yang sedikit kontroversi di Masyarakat yang kami lakukan kemarin adalah memberhentikan pelayanan angkut buang sampah ke TPA.

Hal ini kami lakukan mengingat laporan yang diinformasikan oleh BUMDes sebagai pengelola kepada kami bahwa pengelolaan sampah terlalu membebani keuangan BUMDes yang menyebabkan adanya kerugian. Namun, kami tidak berhenti. Kami langsung mencari solusi dengan mempelajari cara pengelolaan sampah dari sumber berdasarkan Pergub 47 tahun 2019.

Kami juga memperoleh CSR dari PLN yang kemudian kami gunakan untuk membuat komposter, edukasi pemilahan dan edukasi pemanfaatan maggot. Bapak Kadis Lingkungan Hidup juga banyak memberikan kami support dan memfasilitasi kami belajar dan bertemu dengan beberapa komunitas dan Kelompok Swadaya Masyarakat.

Tahun depan, kami akan coba wujudkan TPST3R sebagai tempat untuk belajar dalam mengelola sampah.

Sistem Informasi Desa juga akan mulai kami buka pada masyarakat dengan menambahkan Layanan Mandiri sehingga masyarakat dapat dengan mudah dalam mendapatkan layanan surat menyurat maupun pengaduan lainnya.

Di bidang pembangunan infrastruktur, kami baru saja mewujudkan jalan usaha tani, yang mana dananya berasal dari Pagu Indikatif Kecematan. Karena aspirasi masyarakat dalam mewujudkan jalan usaha tani tersebut tersebut banyak dibantu oleh Bapak Made Urip, maka dari itu sebagai penghargaan, kami menamakan jalan tersebut Jalan Maurip. Ada juga pembetonan jalan di Banjar Telengis yang memang telah dirancang dalam RPJMDesa sebelumnya.

Pada Jalan Usaha Tani Maurip yang baru saja diresmikan tersebut, tahun depan (2021) kami juga berencana membuat beberapa spot untuk berfoto. Dengan demikian harapan kami konsep berwisata di desa pelan – pelan dapat kami wujudkan mulai tahun depan.

Adanya penguatan permodalan BUMDes di tahun depan juga kami harapkan akan mampu menggeliatan perekonomian di desa, dimana kami akan lebih banyak fokus menggunakan media digital dalam mempromosikan setiap produk yang ada di desa, baik pertanian maupun produk kreatif lainya.

Demikianlah sedikit flashback perjalanan kami dalam satu tahun terakhir. Mudah-mudahan, tahun depan dan tahun-tahun berikutnya apa yang kami cita-citakan bersama menuju desa yang Mandiri dapat berjalan dengan baik.

Exit mobile version