Romantisme Indahnya Kehidupan Desa

Beruntung sore itu saya mendapatkan momen yang sangat bagus. Tidak banyak kendaraan bermotor lewat disepanjang jalan yang bisanya rame berlalu lalang dari pagi hingga sore hari. Saya bersama tiga orang lainnya sore itu kebetulan mendapat tugas untuk mendak Mangku Siwa yang akan muput karya pengabenan sore itu.

Sesampainya di Griya Mangku Siwa, saya duduk sebentar sambil meminum ice kopi yang baru saja saya beli di minimarket depan Griya. Baru saja saya duduk di Jineng, Mangku tampak datang dari timur. Tampaknya mangku baru saja selesai mesiram (mandi), sehingga kami harus menunggu sebentar.

Kami mengobrol dengan Mangku istri yang sudah siap sedari tadi di Jineng. Biasanya di Jineng itu saya menemukan banyak buku dan lontar yang disusun oleh Jro Mangku Gde. Namun saat itu, saya tidak menemukannya disana lagi. Kata Jro Mangku Istri, buku – buku dan lontar sekarang sudah dipindahkan ke Bale Daja. Disana Jro Mangku Gde biasanya menghabiskan waktunya dari pagi untuk membaca buku dan menulis lontar jika tidak ada penangkilan yang datang. Karena malu untuk naik ke Bale Daja, saya lalu melihat foto – foto lawas yang terpajang disana. Kata Jro Mangku Istri, itu adalah foto ngaben sekitar tahun 60an.

Jro Mangku Gede bersama pengayah

Akhirnya Jro Mangku Gde, telah siap. Kami lalu mendapatkan panggilan untuk datang ke Merajan untuk mengambil perkakas persembahyangan beliau. Kami datang bertiga, sedangkan bawaan yang kami bawa hanya dua. Jadi saya yang menganggur, karena saya tidak membawa kamera atau handphone, saya lalu meminta handphone teman saya Pak Bintang untuk mengabadikan momen tersebut.

Lokasi Griya dengan lokasi upacara pengabenan Mbah Ratih tidaklah terlalu jauh, sehingga kami berjalan berangkat berjalan kaki. Sawah yang menghijau masih terpapar luas di banjar kami, khususnya di tempek 1. Perumahan hanya ada di sisi sebelah timur jalan. Sedangkan di barat jalan hanya ada 5 rumah saja sepanjang kurang lebih 300m. Mungkin karena itulah juga dulu sering disebut dengan banjar nyibakin.

Nampak Pak Bintang berjalan paling depan.
Karena yang apa dibawa harus berada paling depan.

Bagi saya, suasana seperti ini sangat romantis. Sebagai pemuda yang lahir dan besar di desa yang sangat cepat sekali terkena pengaruh perubahan jaman, saya sangat merindukan rasa damai seperti ini.  Saya mengambil foto ini karena rasa rindu saya terhadap suasana desa yang tenang. Berawal dari melihat beberapa foto lawas upacara ngaben di Griya tadi, lalu saya ingin mengabadikan sedikit momen yang hampir serupa ini. Namun dari sisi yang berbeda. 

Selain itu, saya ingin melukiskan kesederhanaan beliau yang saya tahu selama ini. Baik sebagai guru, kerabat maupun teman yang selalu memberikan saya bimbingan dan nasehat. Saya tidak ingin banyak berbicara mengenai gambar tersebut, karena saya yakin gambar itulah yang akan banyak memberikan cerita kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.